Oleh: Syaiful Bahri*
Tragedi yang cukup menyedihkan, sebanyak 30 siswa Kota Yogyakarta diamankan di Polresta Yogyakarta setelah terlibat aksi tawuran, Sabtu (26/6/2012). Pelajar itu terlibat tawuran antara SMK Negeri I Piri, SMK 5, dan SMA Muhammadiyah 2, Polisi juga menyita barang bukti berupa celurit, gir motor, besi ukuran satu meter sebanyak lima buah. Kejadian ini berawal saat 200 siswa-siswi SMK Negeri I Piri melakukan aksi konvoi damai memutari Stadion Mandalakrida untuk merayakan kelulusan.
Ini bukan hanya terjadi sekali saja, tapi itu merupakan mata rantai kekerasan yang terjadi di Jogjakarta mulai dulu. Tercatat, mulai tawuran antara pelajar SMU Gama Yogyakarta dengan pelajar dari SMU Bopkri 2 Yogyakarta (22/4/2011), tawuran antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Piri I versus SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta (01/10/2011), SMA 6 Yogyakarta dengan SMA Muhammadiyah 2 (29/10/2011).  
Itulah realitas pelajar di Jogjakarta. Banyak fakta menegaskan bahwa saat ini tingkat kualitas generasi muda dari beberapa aspek seperti moralitas, keagamaan, sosial, spiritual dan ideologis mengalami kemerosotan yang sangat radikal. Di samping konsumerisme dan hedonisme, pelajar kian hari kian terjangkit brutalisme dan premanisme yang selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Dan naifnya, ini terjadi di Jogjakarta yang mulai dulu sudah dikenal dan dibabtis sebagai kota pelajar dan kota budaya.
Gaya hidup pelajar kebanyakan hanya menggekuti budaya  konsumerisme dan hedonesme. Hidupnya berfoya-foya, dan bermaen-maen, yang tidak perna menghasilkan apapun dalam kehidupanya sehari-harinya.. Mereka gampang membuang waktu percuma untut melakukan hal yang tidak bermanfaat. Misalnya saja sering belanja dan nonton tv serta realitas belajar yang berknfoioi secara berlebihan di sepanjang jalan dengan mencoret-coret bajunya pasca lulus UN.
Ada beberapa hal kemungkikan besar yang membuat pelajar jogjakarta melakukan kekerasan  dalam memecahkan suatu masalah. pertama, maraknya pembangunan mall dan tempat hiburan malam menyebabkan cara berpikir pelajar yang dulunya kritis menjadi tidak bersemangat, karena ruang interkasi ide sudah berubah menjadi dunia hiburan, serta sederetan pilihan hidup hedonis. Tidak bersangkutan, serta kehidupa para pelajar yang setiap harinya   hanya berhura-hura. Pembangunan mall dan tempat hiburan malam menyebabkan banyaknya ruang  publik yang tergusur. Para pelajar akhirnya menjadi konsumtif dengan pakaian dan gemerlap dunia malam. Pelajar tidak gandrung lagi dengan  membaca buku-buku sebagai pedoman kedepan dalam menambah  ilmu ataupun wawasan.
 Dunia pendidikan di jogjakarta menjadi hilang, lantaran sudah banyak para pelajar yang tidak memmilih tinggal di rumanya untuk membaca buku, malah di tertarik mengunjungi kafe-kafe dengan menawarkan dunia penuh gemerlap. Dan ini  sebagai contoh yang kita bisa di liat sekitaran sekolah –sekolah yang ada disekitar jogja karta dikelilinge oleh kebanyakan gedung-gendung dan kafe-kafedan mall  yang hanya bisa mengakibatakan pelajara itu tidak kondusif lagi seperti dahuluh kala. Jadi, budaya hedonesme dan konsumerisme pada gilirannya akan menggiring pelajar untuk berfikir instan dan bertindak anarkis.

*Syaiful Bahri, Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah, UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Aktifis PMII dan IKAAY. Sekarang menjabat sebagi Koordinator Publikasi dan Komunikasi di Gerakan Pemuda Anti Narkoba DIY.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar