Oleh: Matroni Muserang



SAYA TIDAK menuliskan catatan ini sebagai tulisan serius, hanya saja ini sebentuk perkenalan saya dalam dunia puisi, puisi sebagai sosok yang selalu saya tulis. Dalam tulisan ini saya ingin mengimplementasikan Chairil Anwar sebagai pisau analisis dalam tulisan ini. Karena bagi saya Chairil Anwar tidak hanya sebagai penyair, akan tetapi Chairil Anwar mampu masuk di ranah apa pun, termasuk agama, budaya, sosial, politik dan filsafat. Karena untuk mengambil teorinya Augus Comte, Popper, Thomas Khun, Imre Lakatos, dan Paul Karl Feyebend terlalu jauh dan mungkin saya belum mampu, tulisan ini hanya untuk memberikan lahan refleksi kita sebagai penyair dan kritikus sastra. 

Mengenang Chairil Anwar tentu kita pasti mengkritiknya sebagai evaluasi dan kritik untuk perkembangan sastra. Akan tetapi ketika di tarik ke ranah sekarang, antara penulis puisi (bukan penyair sebenarnya) dan kritikus sastra tidak seimbang. Setiap hari kita membaca ribuan puisi baik dalam bentuk buku, initernet dan lain-lain, akan tetapi kritikus sastra tidak seperti lahirnya puisi tersebut. Kalau kita melihat Chairil Anwar. Mengapa kemudian Chairil Anwar dikatakan sebagai monomen sastra dalam jagat kepenyairan? Tidak ada orang yang tidak mengenal Chairil Anwar. Kenapa? Dalam diskusi di Komunitas Rudal pada tanggal 4 Mei 2013 Yusriyanto elga sebagai pemantik memberikan empat alasan. 

Pertama, Chairil Anwar melakukan pendobrakan bahasa ungkap puisi dari sebelumnya, yang dipelopori Amin Hamzah dan teman-temannya sebagai penyair pujangga baru, yang bentuk puisinya lebih konfensional, lebih mengedepankan bunyi dan rima. Di anggap puisi identik dengan pantun, namun Chairil Anwar dengan semangat keilmuannya yang belajar dari dari luar negeri, karena dalam catatan sejarahnya Chairil Anwar bisa tiga bahasa, maka tidak heran kalau Chairil Anwar  melakukan pendobrakan atau perubahan, bagi Chairil Anwar puisi harus berubah dengan bentuk baru.

Chairil Anwar sebagai angkatan 45 pantas melakukan pendobrakan ilmiah dalam dunia puisi, lugas, tegas, pasti, sederhana, berbobot dan berguna, karena waktu itu masa penjajahan masih membara dan puisi waktu di butuhkan. Chairil Anwar tidak hanya melulu berbicara dengan bunyi juga berhasil mendobrak bahasa ungkap yang tidak dimiliki oleh penyair sebelumnya. Memiliki bahasa yang berpengaruh dalam dunia perpuisian di Indonesia.

Kedua, karena berkat kreativitas pena HB jassin sebagai kritikus sastra yang produktif dan telaten, sebagai Paus sastra Indonesia yang “mungkin” tidak ada kritikus sastra sekaleber dia hari ini, jadi bisa di kata hari ini bukan zaman tidak membutuhkan puisi, akan tetapi karena ketidakseimbangan antara penyair dan kritikus sastra. Dimanakah kritikus sastra hari ini?. Apakah kritikus harus belajar pada titah HB Jassin? Atau memang hari ini kritikus sastra tidak mampu atau memang kritikus sastra “malas” karena banyak memakan dan di kerangkeng oleh teori-teori barat-sekuler. Atau tidak ada lahan kreativitas imajiner dalam dunia sastra akademik?
Seolah hanya tahu saja, tidak perlu diaktualkan dalam fenomena sastra masa kini? Seolah-olah fakultas sastra hanya mempelajari teori sastra, tapi mampu untuk keluar dari kerangkeng teoritis dan menelaah puisi yang lahir dari negerinya sendiri. Sekarang banyak puisi lahir, tapi kritikusnya tidak ada. Dimanakah kritikus sastra hari ini?

Ketiga, karena zaman membutuhkan Chairil waktu itu, zaman dimana di duduki Jepang. Dimana zaman membutuhkan puisi. Para kritikus mereflesikan hal itu, kenapa Chairil begitu tenar, walau usianya sebentar? Apakah benar zaman tidak membutuhkan puisi? Ada yang menjawab “iya” ada juga yang menjawab karena beruntung karena Chairil punya banyak teman dan relasi kuat.   
  
Keempat, karena pergaulan luas dan lintas. Dengan Syahril, Bung Karno, dan Bung Hatta, yang ini menjadikan Chairil tumbuh tenar. Di samping puisinya memang baik. Pendobrakan yang berbeda, ada semangat yang menginspirasi banyak penyair sesudahnya bahkan hari ini.  
Chairil sebagai penyair yang terlibat langsung dalam masalah pemudah, politik, dan masalah kebangsaan. Sekarang penyair hanya menggambarkan wanita, kata peserta diskusi. Penyair marketing kata-kata, atau memasyarakatkan kata-kata, hari ini penyair berjarak dengan persoalan kebangsaan? Tidak ada komunikasi baik dengan politik. Soalah-olah “apa kamu”? Sama-sama menolak, tidak ada pertemuan kata-kata dengan politik. Padahal Chairil aktif di berbagai linih pemikiran keilmuan.

Mengembalikan puisi yang ada di menara gading, yang hanya dinikmati masyarakat puisi, maka hari ini puisi harus dikembalikan kepada masyarakat luas. Dengan menjelaskan puisi apa? Barangkali puisi terlalu ekslusif bagi masyarakat umum, sehingga tidak mampu merubah masyarakat. Bagaimana puisi menjadi merubah fenomena masyarakat? Memang tidak mudah. Inilah pertanyaan dan tantangan masyarakat penyair hari ini.

Kita butuh puisi yang mencoba menghadirkan puisi sebagai bentuk kritik dan berwatak revolusioner dalam melihat keseharian. Selama watak puisi tidak dihadirkan, maka puisi tidak bisa merubah apa-apa. Watak puisi bukan melankolia, tapi menghadrikan revolusionalitas puisi.
Yang untuk menciptakan realitas baru dan perubahan baru seperti apa yang dilakukan Octavia Paz, WS Rendra, Wiji Thukul dalam mengkritisi modernitas, melawan segala macam dokrin dan melawan manipulasi kesetiaan buta dan janji-janji manis permainan rasionalitas spekulatif (Arif B. Prasetyo,2002).

Lantas siapa yang akan menjadi pemberontak ketika melihat keadaan bangsa yang karut-memarut? Siapa?


Sumber: Koran Minggu Pagi, 05 Mei 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar