Oleh: Ardhi Wiranata 
       Musim kemarau telah tiba. Sama seperti musim-musim kemarau sebelumnya, air di kampungku begitu sulit didapat. Namun kemarau kali ini lebih sulit lagi dari kemarau-kemarau biasanya. Eksploetasi alam secara berlebihan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab, egois, yang hanya mementingkan kepentingan pribadi tanpa memperdulikan nasip penduduk desa kami. Penebangan pohon-pohon itu untuk memenuhi permintaan orang-orang kota yang rakus telah membunuh sumber mata air di desaku. Sungai-sungai mengering, sumur-sumur taklagi berair. Jangankan untuk mandi, mencuci, memasak, untuk minum saja sulit. Hanya ada satu mata air yang mampu bertahan yaitu, sumur sa’dan.
       Konon katanya, sumur itu digali seorang diri oleh orang yang bernama Sa’dan. Sehingga orang-orang di kampungku menamakannya sumur sa’dan. Namun untuk mendapatkan air itu butuh kesabaran, karena harus antre. Terkadang sampai berjam-jam. Seluruh penduduk desa menggantungkan diri pada sumur tua itu. Berharap selamanya tetap berair sebagai persediaan kala musim kemarau tiba. Sebenarnya, masih ada satu mata air di kaki bukit tembing yang juga mampu bertahan di musim kemarau. Namun, jaraknya sangat jauh sekitar satu kilo dari rumahku. Belum lagi jalannya terjal, berduri dan tempat dimana binatang-binatang buas biasa mencari mangsa. Sehingga penduduk desa enggan untuk mengambil air kesana.  
       Pagi-pagi buta sebelum shubuh dan sebelum ibu-ibu yang lain menimba air, ibuku bangun dan sesegera bergegas untuk mengambil air. Dengan ember dan obor ditangannya, ia menerobos memecah gelap. Tentu obor itu takcukup mampu membantu matanya yang telah rabun. Jam setengah lima ibu membangunkanku, air untuk mandi dan nasi sudah siap. Aku bergegas mandi, kemudian sholat, lalu makan dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Jam enam aku berangkat sekolah. Mengayuh sepeda pemberian al-marhum bapakku, yang telah meninggal setahun  yang lalu. Tak lupa aku mencium tangan ibu dan mengucap salam seperti yang bapak ajarkan padaku.
       Datangnya musim kemarau kali ini menggenapkan penderitaan ibu. Biasanya bapak yang selalu menimbakan air untuk memasak dan untukku mandi sebelum berangklat sekolah. Ibu hanya tinggal memasak dan menghidangkannya untukku. Tapi, kini ibu harus menimba air sendiri untuk memasak dan untukku mandi karena ayah sudah meninggal seminggu yang lalu kareana penyakit ginjal yang dideritanya. Kasihan ibu. Aku tidak bisa membantunya. Aku juga sibuk dengan sekolah, OSIS dan tugas-tugas sekolah yang lain.
       “Jangan kau pikirkan ibu, pikirkan saja sekolahmu nak!, kamu harus pintar dan men jadi manusia yang beguna untuk bangsa dan agama”.
       “Aku berjanji pada ibu, suatu saat nanti, aku akan membebaskan ibu dari penderitaan ini. Ibu tidak harus lagi bangun pagi-pagi buta untuk mengambilkanku air untuk mandi dan untuk ibu memasak”, ibu memeluk erat tubuhku sembari terlontar dari kedua bibirnya yang mengerut dimakan usia namun begitu lembut didengar kata-kata samar dan terengas-engas. “Ya nak”.
       “Ibu menangis?”.
       “Tidak…!”, mencoba menghindar. Tapi, air mata ibu yang jatuh dilenganku takbisa memungkirinya.
       “Ibu ingat pada bapak?”.
       “Tidak…! Ibu hanya takut, kalau ibu mati, siapa yang akan merawatmu nak?”, isakan dan air mata ibu semakin menjadi.
       “Kenapa ibu bicara seperti itu?”, tanyaku heran. Tidak seperti biasanya ibu bicara tentang kematian. Apa ini pertanda kalau ibu akan meninggal. Tidak, ini mungkin hanya perasaanku saja yang berlebihan. Bapak sudah pergi, tidak mungkin tuhan setega itu padaku mengambil ibu juga dariku. Bukankah tuhan maha pengasih dan maha penyayang.
       “Sudah, jangan kau pikirkan, ayo kita tidur”, ajak ibu, lalu menggendongku kekamar.
Sepanjang malam pikiranku takkaruan, selalu ingat kata-kata ibu, dan timbul tanya menakutkan. Bercumbu antara hayal dan nyata menjadi misteri yang sulit dipecahkan. Aku pun mulai terlelap. Lorong-lorong waktu gelap seketika. Melemparkanku pada jalan curam tak beraspal. Dipersimpangan jalan aku dikejutkan dengan sosok wanita tua berjubah putih. Wajahnya berbinar-binar dengan digandeng oleh dua makhluk tak berwajah. Lalu mereka meluncur kelangit seperti roket. Wanita tua itu melambaikan tangan padaku sembari tersenyum. Dia itu ibu. Lalu mau mereka bawa kemana ibuku?. “Ibu…! Ibu…! Ibu…!”. Kuberteriak berharap mereka kembali. Namun, kedua makhluk tak bewajah itu terus membawa ibu pergi tanpa memperdulikan teriakanku. Lalu lenyap ditelan langit. “Astagzfirullah…!”, serentak aku terbangun. Keringat mengucur deras membasahi selimut kusam itu. kubaca doa lalu kembali tidur berusaha melupakan mimpi buruk tadi.
       Seperti biasa pagi-pagi buta ibu bangun dan bergegas menimba air kesumur sa’dan. Menyiapkan air mandi, menanak dan menghidangakannya untukku.
       Jam enam aku berangkat sekolah mengayuh sepeda pemberian al-marhum bapak.  takpernah lupa aku mencium tangan ibu dan mengucap salam seperti yang bapak ajarkan padaku. Saat pelajaran berlangsung, kembali aku terlempar pada misteri tanya tak berujung itu. Sehingga konsentrasiku saat pelajaran menjadi buyar. Sama saja dengan bolos. Sesudah jam pertama selesai, aku meminta idzin pulang dengan alasan kurang sehat.
       “Assalamu’alaikum”.
       “Wa’alaikumusssalam. Ko’ pagi pulangnya?”, terdengar suara dibalik pintu. Sembari ibu membuka pintu, lalu kupeluk ibu. Dan tanpa sengaja air mataku membasahi baju ibu yang sudah lusuh, kusam dimakan usia.
       "Kamu sakit nak…?”, seraya mengusap kepalaku.
       “Tidak”, jawabku singkat.
       “Lalu kenapa?”, tanya ibu cemas.
       “Aku idzin bu…!, karena aku kangen sama ibu, ingin memeluk ibu selamanya. Ibu jangan tinggalin aku ya…?”. Sepontan ibu mendekap tubuhku erat tanpa menanggapi keluhanku. Seluruh kulit tubuhnya yang keriput cukup mampu menghangatkan tubuhku. Suasana menjadi hening seketika, damai, tentram. Serasa  dikampung hanya ada aku dan ibu. Tak ada orang-orang egois itu, orang-orang yang telah menghancurkan ribuan masa depan anak-anak desa. Desaku hijau, asri dan nyaman.  
       “Astagzfirullah, aku tertidur”. Ibu sengaja tidak membangunkanku, mungkin ia melihatku begitu nyenyak  hingga taktega untuk membangunkan. Lagian kalau tidur sebelum waktu sholat dan terbangun setelah waktu sholat itu habis tidak dosa. Itu termasuk manusia diluar khithob. Begitu menurut penjelasan KH. sulaiman guru agamaku.  
       Hari sudah mulai menua, mega memerah lalu datang gelap pertanda malam telah tiba.  Aku bergegas mandi dari sisa air tadi pagi, meskipun sedikit cukuplah membersihkan tubuhku dari keringat. Lalu sholat magrib dan mengkodha’ sholat yang telah kelipat. kemudian mengaji dan membaca buku sebagaimana yang bapak ajarkan padaku.
       “Nak…!, ayo makan malam”, ajak ibu.
       Sehabis makan dan sholat ‘isyak, aku bergegas kekamar tidur dan kubaringkan tubuhku diatas kasur tua yang sudah melapuk  peninggalan bapakku. Ternyata ibu mengikuti langkahku hingga kekamar.
       “Boleh ibu tidur denganmu malam ini?”, seraya berbaring disebelahku.
       “Boleh”. Ibu memeluk tubuhku erat. Tapi, pelukan ibu terasa dingin sekali, seperti mayat. Tidak, ibuku masih hidup. Mungkin ibu hanya kedinginan.
       Rasa takut bergemuruh dalam jiwa, cemas dan ada pula bahagia, haru menyelinap disela-sela pelukan kasih sayang tulus itu bercampur menjadi adonan tak tentu rasa. Aku terlelap lebih awal dari ibu. Setengah sadar terdengar  suara isakan tangis dekat telingaku, sangat dekat. Lalu aku terbangun karenanya.
       “Tidurlah nak…!”, sembari menghapus air matanya, mencoba menyembunyikan tangisnya dariku. Aku pejamkan mata meski sebenarnya aku tak tidur. Malam sudah sangat tua. Semua makhluk mungkin telah tidur, kecuali aku dan ibu, mungkin juga tukang ronda dan orang-orang sholeh yang sedang sholat malam. Isakan tangis itu lalu lenyap. Kubuka mata kulihat ibu sudah tidur.  Akupun mengikuti jejaknya.
       “Astagzfirullah, sudah shubuh, aku telat”. Ibu mengagetkanku dan membuatku terbangun karenanya. Kulihat ibu sangat tergesa, mengambil ember dan obor lalu berlari menuju sumur sa’dan. Benar kata ibu, ia benar-benar telat, disana sudah banyak ibu-ibu sedang antre menunggu giliran menimba air. Tak mungkin ibu menunggunya. Berdiri dibelakng deretan panjang seperti orang-orang berebut tiket kereta. Sedangkan bus-bus kosong memenggil-manggil penumpang. Meski lajunya tak secepat kereta. Tapi, setidaknya ia sudah dalam perjalanan menuju tujuan. Tidak diam saja.  Waktunya akan terbuang sia-sia. Adri mungkin sudah berangkat. Tidak makan dan tidak mandi.  Seorang ibu tak akan pernah membiarkan itu terjadi. Teringatlah ibu pada mata air di kaki bukit tembing itu. Tanpa pikir panjang berlarilah ia. Tubuhnya yang sudah tua renta, tenaganya pun tak sekuat dulu. Tertatih-tatih, jatuh bangun meraba gelap,  menyusuri jalan penuh rintangan bersama ember dan obor  yang dipegangnya erat, seperti tentara perang yang terluka berlari terbirit-birit dengan tameng dan tombak ditangannya.
       Lama kutunggu ibu takkunjung jua datang. Jarum jam sudah menunjuk pada angka enam waktunya aku berangkat sekolah. Tapi, aku lapar dan juga belum mandi. Teman-teman pasti mengejekku. Bau lo…!. Aku susul ibu kesumur sa’dan. Setiap bertemu orang aku bertanya pada mereka. “Dimana ibu?”. Namun, tak ada seorang pun diantara mereka yang tahu. Setibanya disumur ibu pun juga tidak ada. Aku teriak sekuat pita suaraku. Namun, tak ada sautan sama sekali.  Entah dimana ibu. Kupalingkan tubuhku. Bersama derap langkah yang linglung kubawa pulang rasa cemas ini.
       Tiba aku diseperempat jalan. Mataku tertuju pada kerumunan orang dihalaman rumahku. “Ada apa ini, mengapa banyak orang, apa ada pesta dirumahku?. Mungkin saja ibu memberikan surprise untukku, hari ini kan hari ulang tahunku”. Aku melangkah mendekat. Lalu kusobek kerumunan orang yang melingkar pada satu titik pusat ditengahnya. Ah…! Ada manusia berbaring kaku, wajahnya pucat dan disekujur  tubuhnya penuh luka-luka seperti bekas gigitan binatang buas. “Siapa dia?”. Kucoba  mendekatinya dan kuperhatikan wajah yang pucat dan tercabik-cabik itu. Dan ternyata, dia adalah ibu.
       “Ibu…! Ibu…! Ibu…!. Benarkah ini ibuku?” kubertanya pada setiap orang yang ada dirumahku.     Mereka hanya mengangguk, tak sekata pun keluar dari bibir mereka. Mengangguk bererti benar.
       “Tidak…!”. Kupeluk tubuh ibu yang terbujur kaku diatas rajutan jerami tua itu.
       “Ibu, belum sempat aku membalas kebaikan ibu dan juga belum sempat kupenuhi janjiku untuk membebaskan penderitaan ibu. Tapi, mengapa ibu pergi?”.
        Pelukan dingin semalam ternyata untuk yang terahir kalinya, dan apa yang kutakutkan selama ini benar-benar terjadi. Mimpi itu benar-benar menjadi nyata.

*Penulis Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jurusan Sastra Inggris

Tidak ada komentar:

Posting Komentar