Oleh: Syaiful Amri

Hari sudah gelap. Malam sudah turun sedari tadi. Suara gigi bergemeletuk terdengar kerap. Tangan bergemetar. Dingin. Sumanto sambil merapatkan jaket kulitnya. Gerimis itu, ah…! mengganggu saja. Sumarni telah membuat sendi-sendi Sumanto beku. Kram. Sedari tadi duduk saja, bersila. Tak betah duduk berlama-lama.

 Sesekali kakinya ia selipkan pada kedua tali terompa hitamnya, kembali dipakai seraya turun dari atas lincak warung kopi. Mondar-mandir di warung kopi di tepian jalan itu. Bak cacing kepanasan ditaburi abu. Belum saja yang dinanti datang menemui Sumanto. Kopi panasnya sudah setengah gelas dihabiskan. Gerimis itu selalu saja membuatnya tak bisa pergi kemana-mana, membuat gigi Sumanto semakin bergemeletuk kencang.

 “Kalu bukan Sumarni memintanya, aku takkan sudi  untuk menunggu di malam yang dingin disini.” Sumanto mulai gelisah kesal.

Sudah dua setengah jam. Yang dinanti pun tak kunjung tiba. Untung saja bisikan malaikat itu terus berkata; sabar..sabar…sabar. Walaupun dalam hati Sumanto sibuk dengan kata ocehan kesal. Kesabarannya sudah hampir memuncak. Apalagi segelas kopi panas sudah diteguk habis olehnya. Pun tak ada gunanya menuggu. Telinga terasa mengecil karena malam yang dingin.

 Beranjak langkahkan kaki, Sumanto niat pulang meski tanpa senyum.

Kang…! sebuah suara memanggil ditengah gerimis mulai menggila. Dengan suara tersendat-sendat, seolah baru saja dikejar anjing galak milik pak lurah. Sumanto urungkan niat pulang dan kembali mencabut kunci dikepala motor buntutnya. Sumarni yang baru saja tiba di warung si mak Ija, sumanto bergegas menaung kembali ke warung itu, seraya tangan diatas kepala menahan piasan gerimis yang jatuh membasahi rambut ikalnya.

 “Kemana saja Marni? hampir aku pulang.” Senyum lawas. Menyembunyikan rasa kesalnya.

“Emmm…, anu Kang” sumarni sambil mengusap punggung tangannya yang mulai keriput kedinginan. Raut wajah gelisah panik. Tanpa basa-basi Sumrani menarik lengan sumanto. Mengajak bicara serius di belakang warung mak Ija.

       “Gawat kang, ini gawat.” Wajah Sumarni semakin keliahatan panik ketakutan.

       “Gawat kenapa?, coba bicara pelan, jangan buat Akang jadi panik begini.”

       “Kang Sarnuji marah besar.”

       “Apa?, dia sudah tahu?”

       “Benar Kang.”

Senyap. lengang. Berfikir mencari jalan keluar seraya telunjuk menepuk kening kepala. Alhasil sia-sia, pun tak ada jalan yang tak berbatu, tak kunjung temui jalan keluarnya.

Keduanya kembali kerumah masing-masing dengan hati yang berkecamuk. Keduanya sudah tahu, resiko apa yang harus ditanggung olehnya.

***

Sarnuji tahu, tingkah laku istrinya yang sudah main belakang dengan lelaki lain. Pantas saja ayat suci Al-Qur’an itu sering menggema. Nada SMS telepon genggam Sarnuji. Entah dari siapa pesan itu. Pesan gelap. Mengabarkan tentag istrinya yang selingkuh. Tapi tak segampang itu Sarnuji percaya begitu saja pada orang yang tak dikenal sebelum ia benar-benar yakin bahwa kabar pedas itu benar adanya.

Memang banyak cobaan bagi orang yang membangun hubungan jarak jauh. Berat konskuensi dan resikonya. Apalagi kalau dibelakang meniggalkan seorang istri. Tapi apa daya, faktor kewajiban seorang suami memaksa sarnuji untuk mencari nafkah untuk sempalan tulang rusuk kirinya. Lemahnya ekonomi yang menyebabkan Sarnuji pergi ketanah rantau. Hanya demi mencari sesuap nasi dan tidak ingin keluarganya menderita kerena tidak ada yang mau dimakan disamping itu juga untuk menuanaikan kewajiban sebagai seorang suami.

Sudah satu minggu Sarnuji tapakkan kakinya ditanah desa, pulang ke tanah kelahirannya, sebuah kampung yang jauh dari keramaian kota, tepatnya kampung Manglak. Diam-diam ia mencari tahu kebenaran yang selama ini selalu menggelantung lunak dalam hatinya. Tadinya, kabar pedih itu di tafsirkan hanya sebagai angin iseng yang hanya numpang lewat. Faktanya, sebuah hawa panas yang menerkam dan menghanguskan seribu mimpi Sarnuji.

Dilema bergejolak melanda gumpalan darah merah nan suci dibalik rusuknya. Hati membara, membeludak terbakar. Betapa tidak, tanda tanya besar tentang istrinya yang selama ini, talah terjawab pedih.

Sayatan silet tumpul itu benar-benar perih. Guratan dalam yang menyakitkan ber-tumpang tindih, membuat Sarnuji Sesekali menepuk dada membaca kalimat istighfar. Bertanya-tanya, “entah dosa apa yang telah aku perbuat hingga hidup menjadi asing dari mimpiku.” Bergelayut dalam benaknya, sadar akan dosa pada tuhannya. Tuhan tidak akan memberi ujian terhadap hambanya melebihi batasnya. Tapi kali ini sarnuji tidak kuat dengan apa yang dirasakan, ia merasa tuhan tidak adil padanya. Itu suara hati sementara yang dirasakan sarnuji.

 “Emmak kan sudah pernah bilang sama kamu nak!, tidak perlu bekerja jauh!. Masih banyak pekerjaan dan kalau hanya untuk menafkahi istrimu dikampung ini, hanya saja kamu serakah. Ingin uang yang berlipat. Akhirnya begini kan?, lake alako, ebudi alake[1]. Kejadian ini sebagai pelajaran bagimu dan asal kamu tahu ini adalah aib besar nak!. Seantero kampung di belantara ini akan terus menjadi buah bibir warga, tidak akan terhapus sampai satu dua tahun ke depan.” Sarnuji semakin menekur dalam mendengar teguran emmaknya yang tampak mengernyitkan dahi keriputnya. Kemudian Emmaknya pergi tinggalkan Sarnuji, mengarit di persawahan Ghangsean jauh ke timur daya dari rumahnya.

Senyap, menekuni kata yang baru saja ia teguk dalam.

Tak lama kemudian rombongan ibu-ibu yang hendak megarit untuk sapi dan kambing mereka, lewat didepan rumah sarnuji. Melihat sarnuji yang sepi, diam, mereka terhenti sejenak.

“Kumu tak punya kaleng maddhu[2], nuji. Hanya diam diri melihat istri kamu selingkuh, kuping kamu tidak panas, tidak malu?.” Menegur panas Sarnuji.

 “Eh, nuji, mulai dari leluhur kita, seorang lelaki tidak akan pernah tidur nyenyak jika para istri mereka di garap orang lain. Perempuan (istri) itu sebagai mahkota kehormatan bagi para suaminya. Dan sekarang, mahkota kamu?.” Kata yang lain menimpali tegur cetus, merasa kasihan dengan nasib yang dialami Sarnuji.

“Sudahlah, masih banyak wanita lain yang lebih baik daripada dia. Mending cari pengganti. Betul tidak?, Sambung salah satu tetangga yang baru saja datang bergabung.

Sarnuji diam. Hati berkecamuk semakin berkabut, keruh.

Nasib nahas melanda hati yang tentram. Tergoyak. Hatinya mengepul asap kemarahan, mendengar celoteh tetangga barusan. Pikirannya goyah, setelah meneguk dalam kata para tetangganya. Sarnuji duduk dibibir ganduk[3] tua yang terbuat dari tabing[4] di sebelah kanan rumahnya, sembari melinting temabakau melampiaskan kemarahan dengan merokok tanpa henti. Setengah bungkus tas plastik hitam habis dihisapnya. sementara Sumarni belum juga kembali. Ia berlindung dirumah orang tuanya takut amukan amarah Sarnuji.

***

Selama ini kerap sekali turun hujan di waktu siang diiringi matahari yang tetap setia menyinari di tengah turunnya hujan. Warga kampung bertanya-tanya. Akankah kejadian satu tahun yang silam akan terulang kembali?. Ngeri. Isyarat hujan panas seolah memberi isyarat tanda misteri. Warga desa mempunyai keyakinan, bahwa ini menandakan akan ada kejadian yang begitu ngeri. Seperti yang sudah terjadi sebelumnya, ketika hujan diiringi panas, maka sesuatu akan terjadi di kampung ini.

Harkat dan martabat sangatlah dijunjung tinggi oleh masyarakat di desa itu. Jangan sekali mencoba mengusiknya, kalau tidak mau celaka. Karena carok akan segera hadir ditengah-tengah mereka jika sampai itu benar terjadi. Banyak yang menganggap ini adalah tindakan keji dan bertentangan dengan ajaran agama. Meski suku Madura sendiri kental dengan agama Islam pada umumnya. Tetapi, secara individual banyak yang masih memegang tradisi ini. Dan ini merupakan jalan terakhir yang di tempuh oleh masyarakat tersebut dalam menyelesaikan suatu masalah yang pelik.

Adat tidak bisa dibeli dan ditawar. Walaupun cinta sebesar gunung, seluas lautan, serta sebesar dunia sekalipun tidak akan pernah menyatu dikala bersebrangan dengan agama. Adat terus berjalan beriringan dengan agama walaupun adat itu sedikit bertentangan dengan agama. Begitulah hukum adat. Seperti kaidah Al-adatu muhakkamah, adat merupakan suatu hukum yang mengikat para pemeluknya. Sejak nenek moyang menginjakkan kaki ditanah ini, bahkan mungkin sejak pulau ini terbentuk, adat itu masih kental sampai sekarang. Siapa yang mau harga dirinya terinjak. Hanya orang yang separuh berkejantananlah yang diam melihat istri-istri mereka dibiarkan berkeliaran dengan lelaki biadab. Itulah yang yang terjadi pada Sarnuji saat ini.

Sarnuji memerah. Naik pitam. Apalagi ia teringat pesan Mbah kakungnya, “lebih baik pote tolang nak!, daripada pote mata”. Lebih baik melawan walaupun harus bertaruh daging mengelupas dari tulang-tulang, daripada hanya diam bersila melaihat sang istri bercinta dengan orang lain di depan mata.

***

 “Sudah dua tahun aku menikah denganmu, aku tidak pernah berkhianat, berniatpun tidak”. Malam sudah larut. Malam pekat. Suara hujan menempias diatas seng atap teras rumah. Membuat Sarnuji harus mengeraskan suara memarahi istrinya, Sumarni.

Pyar… pyar… pyar…!

Suara itu bertubi-tubi terdengar. Tangan Sarnuji hinggap keras di pipi sumarni. Sumarni hanya diam pasrah. Ia sadar, tamparan itu memang tak seberapa sakit dibanding hati suamaminya. Dan sekarang, sumarni hanya bisa menangis bersedu. Setelah beberapa hari dirumah orang tuanya, baru hari ini pulang ditengah ujung dini senja.

Diluar, hujan semakin deras. Suara gemuruh guntur dan kilap semakin gaduh. Memacah keheningan malam bisu. Seolah dahsyatnya letusan meriam dan granat saat perang melawan belanda yang silam.

 “Maafkan Marni Kang.” Bersimpuh sujud, bertekuk lutut di depan Sarnuji. Smarni mengakui kesalahannya. Linangan air matanya melebur satu bersama tetesan air yang jatuh dari atap  rumahnya yang bocor.

Sarnuji tak menghiraukan rengekan Sumarni. Sarnuji keluar dan menarik kaki yang dipegang Sumarni yang bersimpuh di lantai bertanah. Kemudian duduk di kursi kayu, diteras rumah. Sunyi.

***

Jarum jam baru saja singgah di angka dua. Suara kodok, jangkrik disamping rumah didekat kolam ikan yang lama tak terawat, menderu girang setelah hujan mengguyur mereka.

Sarnuji masih saja tangar, belum bisa memejamkan mata. Tak terasa lamanya duduk mulai dini malam tadi.

Sumarni baru saja terlelap tidur. Perlahan Sarnuji melangkah mendekati sumarni tidur yang ditemani gemerlap cahaya redup. Lampu seperempat whatt. Sambil memandangi sumarni yang tidur pulas dengan posisi berbaring menghadap arah kiblat.

 “Maafkan Akang, Marni. Akang tidak bisa terus diam berlarut.” Walaupun selama ini Akang kurang memberi uang nafkah untukmu dan untuk calon anak kita, tapi Akang tak pernah ada niatan untuk menjauh darimu. Fikiran itu selalu muncul dalam benakku, aku harus membuangnya jauh, agar tak ada lagi yang mengganjal, bergelayut dalam hati terus menerus.”  Sarnuji berkata lirih kepada sumarni yang tertidur pulas.

Di malam yang begitu sunyi. Orang-orang semakin nikmat dengan tidurnya dan merapatkan selimut sarungnya. Sarnuji tidak bisa tidur. Pikirannya terbang kemana-mana. Mata menyapu dinding tabing, kemudian tertegun memndangi satu titik dimana benda itu diletakkan yang tergantung dipaku dindingnya. Sebuah celurit besar dan panjang terus saja dipandangi berulang-ulang.

***

Habislah waktu shalat shubuh. Matahari seujung tombak panglima perang bersama gerimis memantulkan warna pelangi yang sedang turun minum bersama sinar mentari pagi. Dimana para warga sibuk melihat hasil tani padi dipersawahan. Ada yang melakukan ritual dug-guduk[5] dan meletakkan tajin hitam putih di sawah. Kemudian mereka di kejutkan dengan isakan jerit tangis melengking memecah keheningan membelah belah langit. Warga desa berhamburan keluar. Sementara orang-orang yang masih mendengkur lelap di ganduk-gamduk mereka terperanjat bangun dari tidurnya.

Jerit tak kunjung reda. Semua tergopoh-gopoh mendatangi sumber suara keramaian. Berjingkat merapat menuju tempat dimana jerit tangis itu datang. Meski tanah lempong basah dan licin tak dapat menahan kaki untuk melangkah. Orang yang sudah menancapkan paculnya mencabut dan jua berlari. Anak berangkat sekolah dengan payung ditangannya, berhenti senantiasa untuk melihat dan mungkin juga iba. Dengan rintik-rintik sedari pagi tak dapat juga menghalangi sang mentari turut mengintip.

Lelaki yang tak dapat melawan takdir. Dua lelaki bermandi darah dan luka guratan tajam celurit di sekujur tubuh. Bau amis darah menyeruak ke segala penjuru dekat jembatan di sungai Manglak. Sumanto dan sarnuji terbaring kaku.



Yogyakarta: 07 Maret 2012



[1] Istilah orang Madura; Suami bekerja, dibelakang, istri kawin lagi.

[2] Empedu=  dilambangkan rasa keberanian.

[3]Ganduk = salah satu tempat ibadah seperti langgar. juga bisa untuk tempat tidur kaum laki-laki. Dan juga sebagai tempat tamu, yang merupakan salah satu adat struktur bangunan adat Madura.



[4]Dinding/tembok yang terbuat dari anyaman bambu.


[5] Sebuah tradisi memainkan music tradisional yang terbuat dari bambu di daerah persawahan padi, sebagai bentuk syukur atas tuhan dengan berlimpahnya hasil tani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar