Oleh : Herman Busri*
Pesantren biasanya menjadi lokus lembaga yang terus membina dan menjaga setiap komponen di dalamnya sebagai insan-insan yang berkarakter santri-kiyai yang berakhlakul karimah dan menjaga kesopanan dalam setiap hidup berdampingan dengan masyarakat. Hal ini biasanya menjadi kodrat setiap orang yang pernah mengenyam pendidikan di lingkungan pesantren, khususnya pesantern di Indonesia.
Maka sebenarnya tak berlebihan teori yang dikemukan oleh Clifford Geertz tentang keagamaan orang Jawa (termasuk Madura) dalam bukunya yang berjudul “Relegion of Java” sekalipun teori ini banyak dikritik oleh banyak peneliti. Teori Abangan-Santri-Priyai menggambarkan pola keagamaan orang Jawa, diamana Abangan digambarkan dengan orang yang setengah-setengan dalam menjalankan perintah agama (sebut saja; Islam KTP), sedangkan Santri adalah kelompok orang-orang yang paham agama dan taat beribadah, dan Priyai adalah orang-orang kalangan kelas atas (golongan darah biru). Jika teori Geertz ini dicerna dengan pelan-pelan, sebenarnya tak semuanya salah dan tak sesuai dengan  keagamaan orang Jawa. Buktinya apa yang digambarkan Geertz tentang seorang santri ada benarnya juga. Tentunya dalam hal ini santri banyak mendapat pengetahuan keagamaan dari pesantren dimana ia menimbah ilmu.

Sehingga antara santri, pesantren, kiyai, dan ilmu kegamaan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tak berlebihan juga apa yang di katakan oleh seorang sosiolog Dhofier bahwa, sejatinya ada lima elemen yang harus dipenuhi sebagai syarat suatu lembaga dapat dikatakan pesantren yaitu adanya pondok, masjid, santri, pengajaran kitab-kitab klasik (ilmu keagamaan), dan kiyai.
Biasanya kitab-kitab klasik tersebut adalah karangan ulama preode pertengahan Islam, baik yang ditulis oleh ulama Timur Tengah atupun ulama Indonesia sendiri. Kitab-kitab ini banyak ditulis dengan menggunakan bahasa Arab dan dicetak dengan kertas kuning (biasa disebut; kitab kuning).
Pesantren mempunyai ciri khas yang berbeda dibanding dengan lembaga-lembaga pendidikan formal yang berkembang di Indonesia, pesantern selalu saja identik dengan lembaga yang penuh dengan kajian-kajian “Arab”, kitab kuning, dan ilmu keagamaannya yang masih kental. Sehingga proses pembelajaran ini mempunyai karakteristik yang khas Islamnya.
Sekalipun sistem pembelajaran telah maju dan terus berkembang dan ada banyak cara untuk memahami suatu kajian tertentu, akan tetapi ada banyak pesantren yang masih menggunakan cara lamanya dalam metode pembelajaran pada setiap santri-santrinya. Namun, yang terpenting bukan bagaimana cara pembelajaran yang harus dipertimbangkan dan diikuti, akan tetapi sejauh mana ilmu itu dapat diserap dengan baik oleh santri apapun caranya, baik cara lama ataupun cara baru (modern).
Akhir-akhir ini banyak sekali anak bangsa yang tak mempunyai moral yang baik, keadaan ini ditunjukkan dengan banyaknya tauran, pembunuhan, pemerkosaan, penggunaan obat-obat terlarang, dan tindakan-tindakan kejahatan yang lainnya. Ironisnya lagi, kejahatan ini banyak dilakukan oleh siswa-siswa SMP-SMA. Sudah tidak dapat diragukan lagi bahwa adanya tindakan yang tak bermoral itu disebabkan minimnya pengetahuan mereka tentang keagamaan, yang semestinya mereka dapatkan di bangku sekolah. Pesantren dapat menjawab semua masalah ini dengan kajian keagamaan yang diajarkan disana, terutama dengan kitab-kitab klasiknya.
Hal penting yang harus dipertahankan kembali oleh pesanten adalah kekhasannya dalam setiap ilmu yang diajarkan. Karena era ini banyak sekali pelajar di Indonesia yang menuntut ilmu setinggi-tingginya hanya guna memenuhi syarat agar ia mendapat pekerjaan yang layak kelak setelah ia lulus. Nah, disini sangat dibutuhkan sekali peran pesanten agar setiap peserta didik tidak terhantui sifat-sifat pragmatisme yang berlebihan, sehingga menghilangkan niat tulus mencari ilmu karena Allah. Dalam hal ini pesantern dapat mengambil tindakan dengan cara tetap membudayakan hidup yang Islami, hidup yang berlandaskan pada tradisi-tradisi dan syari’at-syari’at Islam, bahwa tak ada tujuan lain mencari ilmu kecuali karena Tuhan yang Esa, yang penting tidak berlebihan dan tidak sampai menimbulkan fanatisme. Dengan cara tetap mempertahankan kajian-kajian Islam yang terdapat didalam berbagai kitab, entah itu kitab kuning, ilmu-ilmu agama, dan lain sebagainya, pesantren bisa menjawab semua masalah tersebut.
Kitab kuning penting dipelajari karena didalamnya banyak membahas tentang kajian-kajian keislaman dan ilmu-ilmu moral yang mesti dipahami oleh setiap  santri khususnya. Dengan demikian setiap santri diharapkan mempunyai pengetahuan yang tinggi tentang Islam dan ilmu moral. Sehingga pengetahuan itu dapat diimplementasikan dalam kehidupannya.
Pembelajaran kitab kuning harus dijadikan dasar sebagai pembentuk karakter setiap santri dengan kajian-kajian Islam yang ada didalamnya. Hal ini menjadi sebuah jawaban terhadap tantangan moral anak bangsa yang sudah mulai merosot. Santri harus mempunyai pola pikir dan tingkah laku yang berbeda dengan siswa-siswa yang tak pernah belajar ilmu keagamaan dan ilmu moral. Santri harus memberikan contoh yang baik dengan moral baiknya yang ia miliki, yang ia dapatkan dari berbagai kitab yang telah ia pelajari. Sehingga inilah yang menjadi pembeda antara santri yang sudah banyak mengenyam ilmu moral dan keagamaan dari kitab-kitabnya itu  dan siswa yang tak pernah tahu apa itu ilmu moral dan ilmu keagamaan.


       *Penulis adalah Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Fakultas Adab dan Ilmu Budaya Yogyakrta. Pimred. LPM Literasia, dan Aktif di Ikatan Alumni Al-in’am Yogyakarta. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar