(Dipublikasikan di Kedaulatan Rakyat, 20 April 2013)
Judul Buku      : Kabin Pateh (Kumpulan Cerpen)
Penulis             : Weni Suryandari
Penerbit           : QAF Books
Cetakan           : I, 2013
Tebal               : xvi + 156 hlm
ISBN               : 978-602-18231-4-9
Peresensi         : Marsus Banjarbarat
Perempuan dalam masyarakat Madura merupakan sosok unik yang secara kodrati tidak hanya mampu mengandung dan melahirkan, merawat serta mendidik anak hingga menjadi orang yang berguna dan mandiri. Melainkan, perempuan di Madura juga menjadi tonggak kehidupan, ikut berjuang menopang perekonomian sebuah keluarga.
Secara tidak langsung, dalam kehidupan perempuan Madura bisa dibilang memiliki posisi setara dengan seorang lelaki atau suami: bekerja ke sawah atau ke ladang, bertani, bahkan memikul beban berat sekalipun menjadi hal biasa di setiap pekerjaannya.

Setidaknya, itulah realitas yang berhasil direkam dan disajikan oleh Weni Suryandari, perempuan berdarah Sumenep, Madura dalam cerita-ceritanya yang terhimpun dalam buku Kabin Pateh.
Perempuan Madura dikenal sebagai sosok yang sangat lugu, ta’dzim dan penurut terhadap titah guru dan orang tuanya. Baik dalam aturan keseharian, lebih-lebih dalam soal penentuan pasangan (perjodohan) yang memang manut terhadap pilihan guru atau kiai dan orang tua. Namun demikian, dibalik keluguan dan keta’dziman perempuan Madura ternyata memiliki kegigihan luar biasa dalam memperjuangkan kehidupan dan masa depan keluarga dan anak-anaknya.
Dalam cerita Kabin Pateh (hal 39) bisa kita lihat bagaimana Weni memotret secara detail alur dan penokohan sosok ‘aku’ (sebagai perempuan Madura) ketika dihubungkan dengan masyarakat sekitar. Tokoh ‘aku’ yang seolah tanpa ia tahu telah sah dinikahkan dengan Hadi, lelaki tua dari keturunan orang kaya, dan karena kekayaannya itulah yang berhasil mengelabuhi hati orangtuanya tanpa memikirkan nasib kehidupan anaknya ke depan. Tetapi, saat itu ‘aku’ tak berbuat banyak dalam hal tersebut. Keta’dziman dan penghormatan pada orang tua dan tradisi nikah muda seperti telah membungkamnya tanpa ia sadari.
Tetapi, pada akhirnya kedewasaan dan kesengsaraan yang terus mengungkungnya, dapat menyadarkan ‘aku’ dan merasakan peliknya kehidupan yang telah dijalaninya berpuluh-puluh tahun lamanya.
Weni tidak hanya berhenti mengupas tentang perempuan Madura dibidang perjodohan. Tetapi juga secara tekun menyajikan kisah kompleksitas perempuan Madura yang hidupnya dijerat oleh tradisi-kebudayaannya sendiri. Ia juga mengulas kisah-kisah perempuan Madura tentang asmara, sex, gender dan kehidupan rumah tangga; yang melibatkan emosi dua orang: laki-laki dan perempuan.
Seluruh kisah yang tersaji dalam buku ini mencerminkan pemikiran penulis dan pandangannya terhadap perlakuan adat istiadat dan masyarakat Madura terhadap perempuan; memiskinkan dan membodohkan. Sajian kisah dengan latar ke-Madura-annya dan penokohannya dalam Kabin Pateh seperti telah benar-benar mengupas kehidupan nyata perempuan di Madura.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar