Puisi-Puisi Hariyono Nur Kholis*
 (Dimuat Di Koran Minggu Pagi 28 Desember 2014)
Tak Perlu Menangis

Sebab metahari setia terbit
tebagai tempat kita menatap semesta
dan aku juga tak ingin pagi yang berawan ini menjadi hujan

Biar air matamu tidak mengadu kemana-mana
dan lukamu tidak diartikan sebagai luka dan lara
melainkan kelembutan dan kesejukan yang tertuang
dikedalaman jiwa penyair.

Yogyakarta, 2014


Lapar Itu Sepi

Sepi yang menyelami nyeri
dilangit senja berawan
keresahan mencari kata baru untuk menjadi jalan

Asap, deru knalpot dan krikil rel gemetaran
sayang, ia bukan minuman pemyangga lapar

Keringat mengelu dalam kaki
seluruh sudut jalanan memberontak mengajak perang
laksana deting pedang di ruang badai

Angin, air mata dan sumber kesejukan menhantui
perawan-perawan bergoyang kemabukan
ketakutan, berlalu sebagai patahan sayap-sayap

Anak dalam gendongan terlihat melekat
di kening perempuan yang mengenang penguasa

Ini tanah air pengecut
dari bulu halus para tikus
merobek matahari bersama kelaparan

Tenggorokanku seakan menjadi ruang angin kematian
sebelum kupanggil kata puisi dimana tempat
kunikmati rasa yang berwarna masa

Tidak ada salahnya kau bermain dijiwaku
dan kuizinkan juga kau menangis bersamaku
untuk melangkahkan.

 Yogyakarta, 2014

Hujan Akhir Tahun

Merayap keperkampugan membawa cerita duka
sejuta tanda tanya, kepung jalanan kota
lukiskan pesan pada dinding gedung perkantoran

Agar semua paham tentang aroma yang tak nyaman
melukai waktu yang terus berjalan
tentang sungai yang tak pernah bertanya.

Yogyakarta, 2014

Aku Terima Kabar

Aku terima kabar dari tetangga
Diperkampungan desa
Ada banyak kata yang dijanjikan
Rerumputan terasa sesak membaca namanya
Mabuk oleh gambar yang bergelantungan

Pada akhirnya kata-kata itu
Mesti aku tagih tiada henti

Aku terima kabar
Awal hujan
Sebagai modal buat hanyutkan hutang
Tidak jauh beda, layaknya bisikan syetan

Yogyakarta, 2013

Nyanyian Angkringan

Telah tersaji setumpuk bungkus nasi
Peralatan buat meracik kopi
Asap yang setia menyelami dingin angin malam
Terkadang bergetar menyanyikan kerinduan

Hingga suara mesin pabrik memecah
Menjilati.
Padahal jarang badai dingin malam menegurnya

Pada tubuh dan sepasang matanya yang binar
Mengandung asap, kabut yang sendu.

Yogyakarta, 2013




Hariyono Nur Kholis*, Lahir di Sumenep, 21 Agustus 1992, sebuah  kota kecil di  ujung timur pulau Madura. Kini sedang melanjutkan Studi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di Fakultas Dakwah dan Komunikasi  UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aktif  Kajian Sastra di Komunitas Rudal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar