Pembukaan acara BWCF di Gran Inna Hotel. 

IKAAY.COM, Magelang - Pagelaran acara Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) yang rutin dilaksanakan setiap tahun, kali ini disemarakkan kembali. Tahun ini memasuki acara ke-7 sejak pertama kali diadakan pada tahun 2012 silam. Tema yang diusung dalam kegiatan tersebut bertajuk “Traveling & Diary: Membaca Tagore, Raffles dan Pelawat Nusantara lain.

Sesuai dengan tema yang diusung, acara BWCF menghadirkan pemateri dari berbagai kalangan intelektual Indonesia atau luar negeri, baik dari kalangan muslim maupun non muslim, di antaranya adalah sejarawan Indonesia, Azumardi Azra, Taufik Abdullah, Peter Carey, Wan Ming (sejarawan dari Cina), Sugi Lanus (ahli manuskrip Jawa Kuno), Romo Cornelis, Ulil Absar Abdallah, ada pula dari kalangan sastrawan seperti Martin Aleida, dan lain-lain.

Kegiatan tersebut digelar selama tiga hari sejak tanggal 22 – 24 November 2018. Pembukaan acara dilakukan di Hotel Grand Inna Malioboro dengan agenda peluncuran beberapa buku. Acara selanjutnya dilaksanakan di Hotel Manohara Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Kegiatan ini diikuti kurang lebih 150 orang dari berbagai daerah dan latar pendidikan. 150 orang tersebut adalah peserta aktif yang hadir melalui seleksi sebelum kegiatan dilaksanakan. Namun demikian, karena antusias masyarakat terhadap acara tersebut, peserta yang hadir dalam pembukaan terhitung lebih dari 200-an orang.

“Yang masuk dalam seleksi peserta aktif ada 150 orang. Tetapi ini 200-an lebih yang hadir.” Kata Imam Muhtarom, selaku panitia BWCF saat diwawancari oleh tim IKAAY.COM (22/12/2018) di Hotel Grand Inna.
 
Dari kanan: Junaidi, Marsus, Prof. Azumardi Azra dan Matroni.
Tiga orang alumni Al-In’am juga ikut menjadi peserta dalam kegiatan BWCF, mereka adalah Marsus, Matroni dan Junaidi. Mereka menganggap perlu mengikuti acara-acara tersebut sebagai wahana menimba ilmu pengetahuan langsung dari tokoh ilmuan yang sudah banyak berkiprah di Indonesia maupun luar negeri, apalagi kegiatan itu gratis, mulai dari pembukaan sampai penutupan acara.

“Iya, ini gratis, dapat fasilitas makan selama acara, penginapan, dan tiga buku.” Ujar Junaidi saat dikonfirmasi.

Bagi Marsus, sebagai alumni sejarah, jika melewatkan acara BWCF kali ini sangat disayangkan, karena materi yang dibahas dalam acara tersebut banyak menyangkut tentang sejarah, terutama mengenai teori-teori masuknya Islam ke Nusantara, baik dalam perspektif naskah-naskah kuno yang dikaji oleh kalangan peneliti, maupun berdasarkan kitab-kitab klasik yang berhasil ditemukan oleh ilmuan muslim.

“Selama ini teori mengenai masuknya Islam ke Nusantara kan masih banyak perspektif, ada yang menyebut abad ke-7, ada yang menyebut abad ke-13 dengan argumentasi dan bukti masing-masing. Ada juga yang mengatakan dilakukan dengan jalur pernikahan, ada pula menyebut Islam masuk ke Nusantara disebarkan melalui jalur perdagangan, dan masih banyak pendapat lain.” Katanya. Lalu dia menambahkan:

“Namun, dalam diskusi acara BWCF pada sesi Pelawat Muslim di Nusantara, Azumardi Azra menyebutkan bahwa teori masuknya Islam dengan jalur perdagangan ‘harus ditolak’. Karena, kalau mau berbicara sejarah, harus berdasarkan bukti dan fakta yang kongret. Sementara, pendapat yang menyebutkan Islam masuk ke Nusantara dengan jalur perdagangan hanya karena ada pedagang muslim Gujarad, India datang berdatang ke Nusantara melewati jalur Malaka pada abad 13. Tetapi, belum ditemukan bukti kongret yang menunjukkan bahwa mereka menyebarkan Islam. Namun, tidak menutup kmungkinan, jika suatu saat memang ditemukan fakta bahwa pedang tersebut datang ke Nusantara menyebarkan Islam, bisa juga diterima teori tersebut.” Ujar Marsus menjelaskan ulang apa yang dijelaskan oleh pemateri saat acara diskusi.

Azumardi Azra dan Taufik Abdullah menyebutkan, yang menyebarkan Islam ke Nusantara bukan para pedagang, namun para musafir, pengembara atau ulama yang memang datang untuk menyiarkan Islam. Salah satunya adalah Ibnu Battuta ( selengkapnya dalam makalah: Secercah Kisah: Ibnu Battuta, Sang Penjelajah Muslim tanpa Bandingan – dipresentasikan Taufik Abdullah dalam acara BWCF 2018).

Apa yang dikatakan Azumardi dan Taufik Abdullah memang benar. Sejarah itu berbicara fakta bukan kemungkinan belaka, apalagi analisa tanpa ada fakta.

“Namun, menurut saya, yang perlu dipertanyakan dan penting ditelaah bersama terkait pendapat Azumardi di atas adalah, apakah pedagang muslim dari Gujarat itu murni sebagai pedagang? atau bisa saja mereka adalah ulama yang sekaligus berdagang ke Nusantara, tetapi belum kita ketahui catatan sejarahnya?” Ujarnya.
 
Diskusi bersama Martin Aleida, dll.
Hal-hal lain yang menarik dalam kegiatan tersebut seperti pertunjukan teater yang dilaksanakan pada malam hari. Konsep-konsep teater yang tampil yakni teater dari luar negeri dan dari Indonesia, yakni dari Sumenep, Madura yang dibina oleh Anwari. Teater tersebut mengusung tema ciri khas ke-madura-an, dengan nilai-nilai luhur orang madura, seperti budaya berpantun, bekerja keras, dan lain sebagainya. (emat)

1 komentar:

  1. Wahhh… Itu Mas Junaidi Khab yang keren yaaaa???? Salam buat beliau..

    BalasHapus