Oleh: Marsus Banjarbarat



IA MULAI berkemas di langgar barat rumahnya. Tikar yang semula bergulung di sudut langgar, ia gelar. Di atas taplak damar sumbu menyala redup berdampingan dengan secangkir minyak urut. Seperti malam-malam sebelumnya, sehabis azan isak Sunahmo duduk bersandar menunggui tetamu yang akan datang, hendak berpijat.

Dari sudut jalan setapak sekitar lima puluh meter dari langgar, terdengar lamat-lamat suara seseorang. Suaranya membawa perhatian. Dan pembawa suara merdu itu semakin mendekat, tentu semakin jelas pula suaranya yang melantunankan ayat-ayat al-Quran, merdu dan menyejukkan.

Tamu datang, batinnya. Ia tersenyum. Tapi senyumnya penuh keganjilan saat melihat sosok perempuan berdiri tegap di muka langgar.

Bukankah ia seorang perempuan gila? Gumamnya.

Ya, beberapa hari ini kampung Kalangka dikejutkan dengan munculnya seorang perempuan yang perilakunya terkesan aneh. Aneh karena setiap malam berkeliling kampung melantunkan ayat-ayat al-Quran. Dan ketika fajar mulai terpancar ia baru menghilang. Entah perempuan pembawa suara merdu itu mengumpat dimana, orang-orang belum mengetahuinya.

Setelah orang-orang bertanya perihal perempuan itu dari satu orang ke orang lain, ternyata perempuan itu bukanlah asli warga kampung Kalangka. Entah dari mana berasal, orang-orang pada heran. Setiap ada yang mencoba bertanya, ia tak menjawab, diam. Kerena itulah lalu orang mengatakannya perempuan gila.


Sunahmo tersentak, lamunannya buyar saat perempuan gila itu naik ke atas langgar dan memintanya untuk dipijat. Karena ia seorang perempuan gila, tentu saja Sunahmo tidak langsung memijatnya. Aih, Tapi ia memaksa dan telungkup di hadapannya.

Sunahmo terdiam. Pikirannya masih dihinggapi perasaan ganjil atas permintaan perempuan itu. Ia perhatikan tengah telungkup di atas tikar daun siwalan. Di bagian kakinya terlihat luka memar dengan sisa darah mengering. Entah luka dan darah karena apa, mungkin terpelanting jatuh, atau apa belum tahu pasti.

Awalnya Sunahmo tetap tidak mau memijat, tapi perempuan itu terus memaksa dengan mengerang kesakitan.

Penuh perasaan ganjil, pelan-pelan ia pun mulai mengambil secangkir minyak urut, sesekali menyingkap sedikit kain roknya dan mengoleskan minyak urut di kaki hingga betis. Lalu ia pun memijat bagian-bagian tubuhnya yang memar atau mungkin terkilir.

***
Keesokan harinya, orang-orang kampung ramai perihal kabar perempuan gila dengan si dukun pijat itu. Berawal dari gunjingan seorang pemuda kampung yang melakukan ronda semalam, bahwa mereka melihat perempuan gila itu dengan si dukun pijat tengah bermesraan, melakukan zina!

“Berzina?!”

“Iya.”

Patek.

Orang-orang tertegun, membelalak. Lalu menelan ludah. Tak disangka kampung kecil ini ada perzinahan. Hampir seluruh masyarakat gempar mendengar berita tak sedap itu. Dan kini berita tersebut terus berkembang dan beralih dari mulut ke mulut sampai ke daerah kampung lain. Dan Sunahmo pun banyak mendapat caci-makian serta cemoohan dari setiap orang yang mendengar kabar keji itu.

“Dengan perempuan gila?”

Ah, masa iya sama dukun itu?”

”Namanya saja orang gila.”

Patek.”

“Dijampi-jampi.” Celetuk yang lain. Sebagian hanya diam.

Orang-orang yang mendengar perbincangan itu, mangangguk. Ada yang hanya memicingkan sepasang matanya tak percaya.

“Kiai Zarnawi sudah tahu?”

“Lihat saja, sebentar lagi beliau pasti ke rumah si dukun peot itu.”

Tak lama berselang, mereka benar melihat Kiai Zarnawi terbirit-birit menuju jalan setapak ke rumah Sunahmo. Tanpa harus disuru, diam-diam mereka bubar dan sebagian yang lain membuntuti jejak Kiai Zarnawi.

Sesampainya di rumah dukun itu, Kiai Zarnawi memangil salam kecut. Ia menyambutnya dengan lembut. Lalu beliau mulai bertanya perihal kabar perzinahan yang telah terjadi itu.
“Mana mungkin saya berzina, Kiai?” Bantahnya.

“Ada sebagian pemuda kampung yang melihat kamu berzina.” Kiai Zarnawi mengintrogasi.
“Tapi saya benar-benar tidak melakukan zina. Saya hanya memijat kaki perempuan itu.” Jelasnya.

Kiai Zarnawi semakin naik pitam. Sebagai seorang tokoh agama, ia seperti telah dipermainkan. Jangankan lelaki dan perempuan bukan mahram meyentuh, diam berduaan saja hukumnya sudah haram! Pikirnya.

“Mohon ampun Kiai, itu fitnah. Saya benar-benar tidak berzina. Sebagai tukang pijat, saya hanya memijat perempuan itu.”

“Saya kan sudah pernah mengatakan, tidak boleh menerima pasien perempuan. Kalau ada perempuan mau berpijat, ada Nyi Sahwiye yang bisa memijat. Biar tidak terjadi zina seperti ini!” Kiai Zarnawi murka.

“Tapi saya benar-benar tidak berzina, Kiai.”

Ia tercekat, teringat nasehat Kiai Zarnawi kalau ia memang dilarang menerima pasien lawan jenis yang bukan mahram. Ia mematung, tak bisa membantah lagi, kecuali hanya mengamini hukuman yang ditentukan Kiai Zarnawi dan para tokoh masyarakat kampung kepada dirinya.

Sore harinya, Kiai Zarnawi dan para tokoh masyarakat berkumpul berembuk untuk memutuskan hukuman pada Sunahmo. Ada yang berpendapat agar di rajam seperti ketentuan dalam islam. Ada yang mengatakan sebaiknya diasingkan dari kampung. Ada pula yang berpendapat agar diserahkan ke pihak yang berwajib, meski sebagian yang lain diam-diam tidak setuju karena hukuman polisi masih bisa dibeli.

Lalu dengan beberapa alasan dan pertimbangan dari perwakilan tokoh agama dan tokoh masyarakat, akhirnya mereka bersepakat bahwa Sunahmo dan perempuan gila itu akan diserahkan kepada pihak yang berwajib, yaitu polisi.

Tak lama berselang usai melakukan musyawarah, mereka bergegas mengadakan pencarian si perempuan gila itu berkeliling kampung. Sebagian yang lain menuju rumah Sunahmo, termasuk Kiai Zarnawi. Untuk kemudian mereka akan menyerahkan ke kantor polisi agar diberi hukuman seberat-beratnya.

Di sepanjang jalan setapak menuju rumah Sunahmo, tak dinyana dari arah kejauhan terlihat seorang perempuan gila itu berjalan, sesekali melantunkan ayat al-Quran, nyaring. Suaranya merdu meski kadang terdengar sedikit sumbang. Patek! Orang-orang lalu meludah, memaki saat melihatnya. Tetapi, betapa Kiai Zarnawi benar-benar merasa terkejut, saat melihat jelas wajah perempuan gila itu adalah muridnya sendiri yang tempo hari akan ia nikahi.

Ia bergeming. Sebercak penyesalan tumbuh dalam benaknya. Tapi, ah, lalu ia menyuru orang-orang agar segera membawanya ke rumah Sunahmo. Dan sesampainya di sana, si perempuan gila itu duduk. Masih melantunkan lamat-lamat ayat al-Quran, pelan. Sesekali melirik pada Kiai Zarnawi, seperti mulai teringat saat diajari mengaji dan menghafal ayat-ayat al-Quran. Ia berpaling, penyesalannya semakin mendalam.

Ia terus melangkah memasuki beranda rumah Sunahmo. Rumah sepi. Lalu beliau mengetok pintu. Tapi tak ada yang membukanya. Sebelum akhirnya ia membuka sendiri daun pintu yang terlihat sedikit terbuka. O, betapa beliau tiba-tiba tersentak dan terperanjat saat melihat Sunahmo tangah berzina dengan Nyi Asmina, istri Kiai Zarnawi sendiri. Patek, batinnya.

Orang-orang diluar penasaran. Melongok. “Patek, jampi-jampi.” Umpatnya.

Perlahan, ia bangkit. Sementara Nyi Asmina masih tergeletak tak berdaya di atas tikar. Sunahmo melangkah. Dari bibirnya tersungging senyum kecut menyambut Kiai Zarnawi dan para tokoh masyarakat kampung yang tengah berkumpul. Lalu dengan tenang, ia menyerahkan dirinya untuk dijatuhkan hukum apa pun daripada saat sebelumnya yang dituduh berzina dengan perempuan gila itu tanpa bukti. Padahal, perempuan tersebut adalah muridnya sendiri yang kabur dari pesantren karena hendak dipersuntingkan oleh Kiai Zarnawi.

Yogyakarta, 01 Desember 2012

*Patek : Anjing (bahasa Madura)


Pernah dimuat di Koran Bali Post dan Radar Surabaya, Maret 2013.



1 komentar: