Oleh: Ainur Khalis

MANUSIA ADALAH ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan makhluk lain di muka bumi. Dalam perjalanannya, manusia dihadapkan dengan banyak ujian yang notabene adalah pencarian bekal menuju alam yang hakiki, yakni akhirat.

Ketika menjajaki perjalanan di bumi, manusia tidak ubahnya air mengalir yang tidak pernah menjumpai ujungnya. Ironisnya, masih banyak manusia yang bertanya: siapa, ada di mana dan mau ke mana saya? Pertanyaan seperti itu menjadi suatu yang nihil, karena ternyata sebagian orang masih banyak yang belum mengenal hakikat manusia.

Dalam buku karangan Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, M.A ini, menjadi salah satu jawaban dari banyaknya pertanyaan yang tidak kunjung menemukan jawaban berarti dan tentang pilihan hidup yang lebih baik. Saat ini masih banyak kelompok yang mempunyai idealisme komunis dan semakin menghantui kaum pemuda yang sedang dalam pencarian jati dirinya.

Manusia yang disebut sebagai makhluk mulia, satu sisi bisa saja menjadi manusia hina ketika dirinya sudah lupa akan kebesaran Tuhan. Dalam buku ini, kita dapat mengambil pelajaran tentang kedudukan diri kita sebagai manusia, sehingga menjadi cikal bakal kesadaran diri agar menjadi manusia yang bermartabat.

Keistimewaan kedudukan manusia dibanding dengan makhluk lain adalah: pertama, sebagai makhluk Allah yang berbeda dengan makhluk lain. Secara hakikat manusia memang tidak akan pernah sama bila dibandingkan dengan makhluk Tuhan yang lain, (meskipun sama-sama diciptaan oleh Allah). Dalam QS. Fathir [35] ayat 11, dijelaskan:

Dan Allah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan) dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirakan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangin umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.

Kedua, khalifah Allah. Manusia kembali ditinggikan derajatnya, karena manusia merupakan khalifah di muka bumi ini. Khalifa dapat diartikan sebagai pemimpin di bumi ini untuk memberikan perubahan yang lebih baik. Seperti yang terkandung dalam QS. Yunus [10] ayat 14, yang artinya:

Kemudian kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat.

Ketiga, hamba Allah. Kedudukan ini menunjukkan bahwa manusia sudah berada pada posisi yang tertinggi setelah melewati dua  posisi yang rendah sebelumnya. Pada tingkat ini, manusia sudah menjadi hamba atau pengabdi kepada Allah yang selama hidupnya harus mengabdikan dirinya kepada Allah. Kedudukan ini menempatkan manusia pada kedudukan sebagai al-abid (yang menyembah, yang mengabdi). Sedangkan Allah sebagai al-mabud (yang mesti disembah). Sebagai  abid, manusia harus berkeyakinan, bahwa yang patut disembah kecuali Allah adalah Allah, Tuhan satu-satu-Nya yang wajib disembah dan mengabdi kepada-Nya. (hal. 82).
Setelah mengetahui tentang hakikat diri kita yang merupakan makhluk bermartabat. Marilah kita menjadi manusia yang bisa memberikan perubahan lebih baik di dalam muka bumi ini. Karena sudah banyak nikmat yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita semua. Menjaga bumi ini dan menjadi makhluk yang terbaik.

Apa tugas kita selanjutnya?

Seperti yang dijelaskan dalam buku ini, kita dituntut untuk menjadi manusia yang bertakwa kepada Allah. Sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Nisa[4]: 1, artinya:

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya (tulang rusuk) Allah menciptakan istrinya dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namanya-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

Oleh karena itu, jadilah manusia yang bermartabat dan bisa memberikan perubahan yang indah dalam dunia titipan Tuhan ini. Selain itu, kita juga akan kembali ke alam yang kekal, yakni alam akhirat.

Buku ini penting kiranya menjadi sumber acuan bagi siapa saja yang sedang mencari jati diri, karena di dalamnya memberikan langkah-langkah untuk menjadi manusia yang husnul khatimah dengan pemaparan bahasanya yang baik dan sangat mudah dicerna.

*)Penulis adalah alumni Sekolah Al-In'am, kini sebagai mahasiswa  Prodi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.



Data Buku:
Judul Buku: Memahami Pejalanan Hidup dan Mati
Penulis: Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, M.A
Penerbit: Qaf
Cetakan: I, 2017
Tebal: 180 Halaman
ISBN: 978-602-60244-1-1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar