Sejak aku berada di Jogja, ada beberapa harapan untuk alumni-alumni yang baru lulus sekolah dari Al-in’am itu sebagian melanjutkan pendidikan, kuliah ke Jogja. Atau setidaknya, adik-adik kelas fresh graduate melanjutkan ke sekolah-sekolah atau pesantren yang memiliki keragaman yang lebih luas. Soalnya berbeda, antara mereka yang tak sekolah (belajar, kuliah) dengan yang bersekolah. Tapi, kenyataan ini masih tampak kurang disadari. Bersekolah cukup sampai habis sekolah menengah atas (SMA) saja, asal ilmunya diamalkan. Racun semacam ini yang aku ragukan atas teman-teman adik kelas di sekolahku.
Seiring waktu bergulir, adik-adik kelas yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau pesantren (belajar) hanya bisa dihitung oleh jari. Sedikit jumlahnya. Dulu, aku sempat berpikir, seandainya di sekolah tempatku dulu belajar ada sosok yang secara intens memberikan motivasi betapa penting arti melanjutkan pendidikan, aku yakin, alumni sekolahku pasti banyak yang terbakar semangatnya untuk terus belajar, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Satu hal yang menjadi persoalan, itu lumrah saja, ekonomi. Ketika orangtua bilang tidak mampu secara ekonomi, maka pupus lah semangat anak-anak yang mau melanjutkan pendidikan (belajar) ke jenjang berikutnya. Nah, di sini, motivator di sekolah kupikir sangat penting. Bukan hanya memotivasi teman-teman adik kelas yang hampir mekar-keluar dari sekolah SMA, tapi orangtua mereka juga diajak urun-rembuk agar terus semangat: misalkan yang beralasan ekonomi lemah, dengan anak bersekolah setidaknya semangat bekerja semakin membara. Kalau sudah bilang, kami tak mampu ekonomi, lalu tetap leyeh-leyeh tak semangat, ya tetap lemah.
Memang sulit kalau hanya memotivasi tanpa memberikan dukungan secara riil. Bisa dikata sebagai kakean cocot, banyak omong. Itu memang tantangannya. Tapi, setiadaknya para motivator memberi gagasan (jalan) bagi keberlangsungan kehidupan ekonomi para orang-tua (masyarakat) di lingkungan kampung sekolah, atau secara khusus para oratua peserta anak didik, ya itu para orangtua adik-adik kelas.
Dulu, ketika aku masih bersekolah, ada guru konselor yang berperan menjadi tempat mencurahkan segala keresahan para siswa, Husen Muhammad, tapi sepertinya tak berjalan maksimal, karena tak berselang lama dia diterima sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Ketika ada kesempatan bertemu dengan sebagian guru, aku menyempatkan bertanya tentang adik-adik kelas yang kiranya berpotensi untuk melanjutkan pendidikan, aku hanya mendapatkan jawaban yang kurang jelas.
Menurutku sih, di sekolah harus ada sosok konselor, tepatnya sosok yang berperan mau menerima keluh-kesah para siswa dan membangun kedekatan dengan para orangtua untuk memberikan motivasi. Sebenarnya, ada banyak tuntutan dan tantangan bagi seorang konselor yang sekaligus motivator, ya seperti kita tahu, keadaan ekonomi di daerahku meman tak menentu. Untuk mengurus suatu tugas atau peran di sekolah tak bisa konsisten, pasti terabaikan, ya lagi-lagi ekonomi menghimpit kehidupan. Aku pun sebenarnya seperti itu. Mungkin sebagian akan berkata, memang mudah berbicara, mbacot, coba jalani sendiri.
Kalau sudah dilawan oleh perkataan semacam itu, mungkin aku hanya bisa diam. Karena aku belum benar-benar berbaur dengan kenyataan di kampung halaman sendiri. Tapi setidaknya, motivasi itu sangat penting dan perlu disadari. Ya, ini hanya sekadar mbacot, yang gak mbois blas. Tapi, sekiranya sudi lah di antara kita untuk saling berbagi, saling menasihati dan mengingatkan, dalam hal apa? Dalam hal kebaikan dan kesebaran.
DIY, 8 Desember 2018
Junaidi Khab, alumni Al-in’am angkatan tahun 2010. Sekarang terguling-guling dengan buku di Jogja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar