Puisi-Puisi: Hariyono Nur Kholis*

Engkau Menunggu Pagi

Engkau menunggu pagi
Sendiri, di sana? tanpa ada lintasan rembulan
Tanpa ada nanyian juga hajatan.

Engkau menunggu pagi, sendiri
Berbenah kenangan yang ditentang penyesalan
Berharap ada sepatah tulang juga ingatan
Menabur kembang di atas tanah lapang

Engkau menunggu pagi
Sepi, sunyi mengetuk pintu shubuh teramat jauh.

Yogyakarta, 2018 
                                    
Malam Ramadhan

Adzan menaiki tangga langit malam
Dengan membawa gema dan cerita
Pada istana dan dinding pencipta
Tentang suasana haru dan bahagia
Yang menempel di antara hati dan sanubari para pengembara

Saut sahur merakit raga kembali yang sempat
Berenang pada mimpi pada cerit sepi
Dan detak-detak ajal di altar do’a.

Hingga shubuh benar membawa petang
Untuk menapaki kembali hidup yang sejati
Antara musna atau menggapai purna.

Yogykarta, 2018


Mawar yang Mekar di Pahamu

Tak mengenal musim.
Mekar mengembang seiring tawa riang
Dalam lelap diatas ranjang juga belaian.

Mawar yang mekar di pahamu
Berjumpalitan meski bulan semi
Teramat panjang datang.

Barangkali bibir ranum dan lekuk tumbuhmu
Mengalirkan embun
Menyusup pada akar daun bulu kuduk tubuhmu
Yang subur.

Hingga ia krasan di lerengnya.

Yogykarta, 2018.

Tak Ada Engkau

Tak ada engkau bukan berarti aku sendiri
Sebab sama mereka aku terlahir ke dua kali

Tak ada engkau
Adalah tangisan yang tajam tentang perjuangan
Kejam namun tiada kata keluhan

Tak ada engkau
Desir angin, sepi malam bercerita tiada akhiran
Mengalir ke arah detak nadi menusuk tepat
Di jantung anakmu

Yogyakarta, 2018


Kelaparanku
Hanya bisa aku sampaikan pada Tuhan
ketika nyawaku terhimpit kekuasaan
berdiri di persimpangan sambil menatap
negeri kelahiran tak peduli rintik hujan
yang terus memperjelas urat perut, raut wajah kesedihan

Bertahan adalah ancaman, bergerak ke tanah orang adalah
angan

Hanya bisa kusampaikan pada suara adzan
Pada suara lonceng gereja
Pada bekunya asap senapan
juga rapatnya meja-meja yang membahas perihal
kenyataan kelam

Yogykarta, 2018

Apa Kabar Bung!

Revolusi masih jauh
Atau sudah diketuk palu.

Kondisi anak alam, didikan hutan bagaimana?
Jiwa pemuda pantang menyerah masih bernyawa

Atau sudah sekarat telanjang dada.

Yogyakarta, 2018.
*Hariyono Nur Kholis, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kini bergiat di Komunitas Sastra Rudal. Puisinya dimuat dalam antologi “Kidung Rindu Kidung Malam 2011” dan “Memory Surabaya 2016”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar